bangga menjadi laziale indonesia


KEBANGGA’AN MENJADI SEORANG LAZIALE

Bagi saya tidak ada yang lebih membanggakan untuk menjadi seorang penggemar bola selain bahwa kita bisa mempertahankan kepercayaan kita terhadap klub lebih dari 9 tahun. Pertama kali kecinta’anku terhadap lazio berawal ketika aku melihat bagaimana sepak terjang klub ini di pentas SERI A sebuah liga yang jadi acuan liga-liga sepak bola di EUROPE,kala itu lazio diperkuat pemain-pemain kelas dunia semisal “marcelo salas,hernan crespo,juan veron,nesta dan bintang kelas dunia lainya”. tapi setelah para bintang ini meninggalkan lazio rasa cinta ini bertambah dalam,Terlebih apabila kita bukan merupakan pendukung asli klub tersebut (pendukung yang berada di negara aslinya) dan lebih lagi jika klub yang didukung ternyata bukanlah klub yang sarat dengan prestasi dan publisitas.

Ya, dan itu semua adalah Lazio. Sebuah kata yang akan mengubah hidup saya untuk selamanya. Memang terdengar terlalu paradoks tapi itulah kenyataannya. Sejak memutusakan untuk menjadi Laziale 9 tahun yang lalu, saya harus menerima kenyataan dengan lapang dada bahwa Lazio sekarang bukanlah Lazio yang pernah saya kenal dahulu. Dahulu saya terlalu bangga dengan prestasi Lazio, namun seiring dengan bertambahnya usia, masalah prestasi (walaupun itupun juga penting) bukan menjadi suatu hal yang harus direbut setiap tahun. Saya menyadari bahwa yang terpenting untuk seorang pendukung klub sekelas Lazio adalah loyalitas dan kesetiaan. Tanpa adanya dua hal itu saya yakin maka akan semakin banyak orang yang berpindah klub.

Apa yang saya dapat pelajari ialah bahwa semakin terpuruknya Lazio maka semakin dalam kecintaan saya terhadapnya. Dan perjuangan saya pun dari hari ke hari adalah bukan bagaimana Lazio harus menang, seri atau kalah tapi yaitu bagaimana saya harus tetap menumbuhkan semangat untuk menjadi Laziale walaupun harus terpisah jarak puluhan ribu kilometer.

Sehingga, saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa Laziale adalah berbeda bila dibandingkan dengan pendukung klub lainnya di Indonesia (terlebih pendukung klub besar), ketika mereka terus ingin memperjuangkan klub mereka untuk bisa berprestasi, kita Laziale terus memperjuangankan bagaimana rasa cinta ini berkembang ditengah keterbatasan klub yang kita cintai bersama. Oleh sebab itu pada akhirnya yang memisahkan kita dengan mereka adalah kerinduan akan klub bukan kerinduan akan prestasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: