Archive for the UlTras lazio Category

Prediksi : Lazio VS Napoli

Posted in UlTras lazio with tags , on 1 Desember 2013 by eko laziale

LAZIO

ROMA – Kemenangan di liga eropa harus dilupakan anak asuh petkovic,pasalnya pada senin 3 desember lazio akan kedatangan tamu yang tak kalah mentereng,yaa… Napoli akan mencoba menunjukkan bahwa kekalahan dari Parma hanyalah usikan kecil. Musim ini, Partenopei mempunyai banyak alasan yang mempertegas diri mereka sebagai penantang utama Juventus meski hanya menyisakan seorang bintang lama. Pasukan Ralael Benitez gagal menjaga jarak tiga angka dari Juventus. Jarak kini melebar menjadi enam poin.

Napoli masih belada di zona Liga Champion. Keunggulan Gonzalo Higuain dkk. hanya dua angka dari Inter Milan dan empat dari Fiorentina. Neapolitano juga masih tertinggal dari Roma. Akan tetapi, mereka masih dapat menyodorkan konsistensi yang lebih baik daripada klub ibu kota untuk menjadi penantang utama scudetto bagi La Vecchia Signora.

Benitez telah menularkan permainan operan ke tim barunya. Napoli kini mencatat jauh lebih banyak operan dibandingkan ketika ditangani Walter Mazzarri musim silam yang berakhir dengan posisi runner-up. Eks pelatih Liverpool ini juga mampu menerapkan 4-2-3-1 menggantikan 3-5-2 ala Mazzarri dengan hasil yang bagus.

Transisi mulus ini makin mengesankan bila mengingat Azzurrin ditinggal sejumlah pemain terbaiknya. Kepergian Ezequiel Lavezzi, diikuti Edinson Cavani, keduanya ke PSG, menjadikan Marek Hamsik sebagai satu dari Three Tenors yang tersisa di San Paolo.

Musim lalu, kretivitas pemain Slovakia ini hanya kalah dari Francesco Totti dan Andrea Pirlo dalam beberapa aspekpenciptaan peluang. Hamsik melepaskan 14 assist, hanya sebuah lebih sedikit dari total peluang bersih yang ia buat. Ia juga menorehkan 29 operan membelah pertahanan lawan yang akurat dari 35 penampilannya berseragam biru Partenopei.

Peran kreatif tersebut tak lagi dipikul Hamsik sendirian pada 2013/14 ini. Untuk assist, striker tersebut tak lagi dipikul Hamsik sendirian pada 2013/14 ini.

Untuk asisst, striker pujaan publik San Paolo yang baru, Higuain, memimpin tim dengan tiga buah asisst. Lima pemain lain mencatat lima assist, diikuti Raul Albiol dengan sebuah assist. Total assist yang dibuat Hamsik? Masih kosong.

Higuain pula yang membuat tembakan per gim terbanyak (2,8). Hamsik bersama Lorenzo Insigne dan Gokhan Inler menyusul dengan 2,2 geberan per laga.

Operan kunci terbanyak dibuat Juan Zuniga (2,3), diikuti Insigne (1,8), dan Hamsik (1,7). Zuniga pula yang memimpin statistik rata-rata dribel dengan 3,5 giringan per partai, jauh meninggalkan Hamsik yang hanya mencatat 0,6.

Penggiringan bola tampaknya bukan inti permainan yang diinginkan Benitez. Dari 20 tim Serie A, Partenopei cuma membuat 9,5 buah dribel per pertandingan. Torehan ini hanya menempatkan Napoli di peringkat kesembilan bersama Verona dan Livorno, lumayan jauh di bawah Inter Milan (yang merupakan klub baru Mazzarri) dengan 16,1 dribel per laga.

Rafa pun tak menimpakan beban besar di pundak Hamsik untuk operan. Catatan 86,6% operan tepat sasaran gelandang serang berciri khas rambut naik segaris (mohawk) ini berada cukup jauh di bawah Valon Behrami di antara para pemain yang membuat lima kali penampilan. Namun, Benitez cukup paham tingkat kepentingan seorang Hamsik di tubuh Napoli. Ban kapten melingkar di lengan pemain berusia 26 tahun itu. Benitez juga menyebut si pemain memiliki kelebihan dibandingkan dengan kaptennya ketika menukangi Liverpool, Steven Gerrard. “Marek lebih cerdik daripada Gerrard. Ia memiliki kecerdasan taktis yang lebih baik,” ucap pelatih asal Spanyol itu.

Ucapan itu tercetus pada awal musim. Napoli mencatat start yang mengesankan dengan Hamsik menjadi nyawa permainan. Sampai pekan ke-13, Partenopei toh telah menelan tiga kali kekalahan, dengan yang terakhir terjadi di San Paolo di tangan Parma lewat gol tunggal Antonio Cassano. Napoli akan mencoba melupakan hasil itu dengan kemenangan di Olimpico, kandang Lazio pada Senin (2/12).

Head-To-Head Lazio vs Napoli:
10 Feb 2013 (PSA) Lazio 1 – 1 Napoli
27 Sep 2012 (PSA) Napoli 3 – 0 Lazio
08 Apr 2012 (PSA) Lazio 3 – 1 Napoli
20 Nov 2011 (PSA) Napoli 0 – 0 Lazio
03 Apr 2011 (PSA) Napoli 4 – 3 Lazio

Lima Pertandingan Terakhir Lazio:
24 Nov 2013 (PSA) Sampdoria 1 – 1 Lazio
10 Nov 2013 (PSA) Parma 1 – 1 Lazio
08 Nov 2013 (PLE) Lazio 2 – 1 Apollon Limassol
03 Nov 2013 (PSA) Lazio 0 – 2 Genoa
31 Okt 2013 (PSA) AC Milan 1 – 1 Lazio

Lima Pertandingan Terakhir Napoli:
27 Nov 2013 (PLC) Borussia Dortmund 3 – 1 Napoli
24 Nov 2013 (PSA) Napoli 0 – 1 Parma
11 Nov 2013 (PSA) Juventus 3 – 0 Napoli
07 Nov 2013 (PLC) Napoli 3 – 2 Marseille
03 Nov 2013 (PSA) Napoli 2 – 1 Catania

Prediksi susunan pemain Lazio vs Napoli:

Lazio: Marchetti, Ciani, Radu, Konko, Lulic, Onazi, Ledesma, Cana, Candreva, Diao Keita, Floccari.Napoli:

Pepe Reina,Miguel Angel Britos, Raúl Albiol, Christian Maggio, Armero, Behrami, Inler, Callejón, Higuaín, Pandev, Insigne.

gamellaggio ( Inter—Lazio )

Posted in UlTras lazio with tags , , , on 22 Januari 2012 by eko laziale

Sebuah Catatan Panjang Sejarah dan Kejadian Dramatis

Stadio Giuseppe Meazza, San Siro, Milano, 23 April 2011. Menjelang laga Inter vs Lazio di pekan-pekan terakhir yang krusial di Serie A musim 2011/2012. Lazio sedang bersaing keras dengan Udinese untuk mengamankan tempat di UCL dan Inter sedang berjuang keras menghidupkan asa scudetto yang hampir pasti diraih AC Milan. Ketika kedua tim memasuki lapangan, dari salah satu bagian stadion puluhan flare warna biru langit dinyalakan, disusul pekikan ribuan orang: “A Roma Ce Solo Lazio” atau “Di Kota Roma Hanya Ada Lazio”. Kita yang hanya menyaksikan lewat televisi tentu mengira itu adalah ulah suporter Lazio. Sebenarnya bukan, flare dan teriakan itu justru dilakukan dari Curva Nord Stadio GM oleh puluhan ribu Interisti yang tergabung dalam Boys SAN dan beberapa kelompok ultras Inter lainnya. Baru setelah itu dari sisi Irriducibili Lazio dinyalakan flare warna biru gelap (warna Inter) dan para Laziali meneriakkan “Forza Inter Ale”. Itu adalah ritual selamat datang dari Interisti untuk Laziali dan tanda persahabatan Laziali bagi Interisti. Ritual itu sudah berusia lebih dari satu dekade sejak kedua kelompok suporter ultras menjalin gamellaggio (twinning, persaudaraan). Di Stadio Olimpico, ritual dilakukan sebaliknya. Irriducibili Lazio menyalakan flare biru gelap disertai teriakan “Forza Inter Ale” dan dibalas oleh Interisti dengan flare biru langit dan teriakan “A Roma Ce Solo Lazio.”

Mengapa kita bersahabat dengan Lazio? Karena sama-sama menempati Curva Nord? Dan mengapa Lazio berseteru dengan AS Roma? Karena menghuni kota yang sama? Itu memang salah satu alasan tetapi latar belakang sesungguhnya adalah sebuah sejarah panjang dan kompleks, dimulai bahkan dari saat awal eksistensi kedua klub itu.

Takdir Mulai Saat Kelahiran

SS Lazio dibentuk tahun 1900 oleh para politisi dan usahawan berhaluan politik kanan dan anti-Yahudi serta berbasis pendukung kaum terpelajar dan kalangan menengah-atas Roma. Kelompok berhaluan serupa juga lah yang mendirikan Inter saat melepaskan diri dari AC Milan tahun 1908.

Saat diktator fasis Benito Mussolini berkuasa di Italia, dia memerintahkan semua klub di kota Roma di-merger menjadi AS Roma tahun 1927. Semua mematuhi, kecuali SS Lazio yang menentang dan tetap berdiri sendiri. AS Roma dikuasai oleh golongan kiri dan didukung oleh kelas buruh dan masyarakat Yahudi (kelompok serupa yang mendukung AC Milan). Di kota Milan, Mussolini melakukan hal yang sama, dan Inter melakukan penentangan yang sama sehingga sementara harus berganti nama menjadi Ambrosiana Milano. Sejarah awal ini telah menyemai ikatan antara SS Lazio dan Inter serta menempatkan AS Roma dan AC Milan pada pihak yang berseberangan. Lokasi yang sama di Curva Nord (Lazio dan Inter) dan di Curva Sud (AS Roma dan AC Milan) makin mempertajam perbedaan ini. Dan, tentu saja, faktor lokasi di Kota yang sama menjadikan persaingan Lazio-Roma menjadi semakin memanas. Lazio dan pendukungnya merasa sebagai yang pertama di Roma, sedangkan AS Roma menganggap dirinya satu-satunya klub yang menyandang nama kota.

Persaingan ini sedemikian panasnya, sehingga Derby della Capitale (SS Lazio vs AS Roma) dinobatkan sebagai derbi paling panas di Italia bahkan di Eropa, melebihi Derby della Madoninna (Inter vs Milan), Derby Manchester (MU vs Manchester City) bahkan mengungguli El Classico (Barcelona vs Madrid). Kalau Interisti dan Milanisti hanya panas di dunia maya tetapi bersahabat di dunia nyata, Laziali dan Romanisti berseteru dalam arti sebenarnya, di dunia maya maupun di dunia nyata. Hampir tak pernah terjadi Derby della Capitale tanpa kerusuhan. Tercatat beberapa nyawa melayang dan ratusan orang telah terluka karena derbi ini. Derby della Capitale adalah “neraka” sepakbola Italia.

Gamellaggio Lazio-Inter

Persaudaraan ini terjadi sepanjang sejarah. Tak pernah ada catatan insiden antara Laziali dan Interisti. Kesamaan aliran politik dan basis pendukung membuat kedua kelompok suporter ini selalu rukun. Gamellaggio secara formal terjadi saat kedua suporter bertemu dalam final UEFA Cup tahun 1998 di Paris yang dimenangkan Inter dengan 3-0. Sikap ksatria Irriducibili Lazio dan sikap simpatik Boys SAN Inter membuat kedua suporter mendapatkan penghargaan fair play dari UEFA. Dan saat itu tercapailah kesepakatan persaudaraan antara Laziali dan Interisti yang makin menguat hingga hari ini.

Inilah beberapa kejadian unik yang menunjukkan eratnya gamellagio Lazio-Inter:

Nasib Tragis Zaccheroni, 5 Mei 2002

Pada pertandingan giornata 34 musim 2001/2002 tanggal (match terakhir, karena saat itu Serie A hanya berisi 18 tim), terjadi peristiwa yang unik di Stadio Olimpico pada laga Lazio vs Inter. Saat itu Inter di ambang juara karena cukup dengan mengalahkan Lazio maka mereka akan meraih scudetto mengungguli Juventus. Maka Laziali di Stadio Olimpico, dimotori Irriducubili Lazio mendukung Inter habis-habisan dan meminta Lazio kalah, agar yang mendapatkan scudetto Inter, rival Lazio: Juventus. Sayangnya malam itu para punggawa Nerazzurri gagal meraih scudetto yang sudah di depan mata, kalah 2-4 dari Biancoceleste. Dan Juventus merebut scudetto dengan 71 poin, diikuti Roma dengan 70 poin. Inter sendiri di posisi ketiga dengan 69 poin. Akibat kejadian ini, Irriducibili Lazio mendemo manajemen Lazio dan meminta allenatore Lazio, Alberto Zaccheroni dipecat. Zaccheroni pun akhirnya mengundurkan diri. Dia dimusuhi Laziali justru karena timnya memenangkan laga. Ironis, tapi itulah jiwa Irriducibili Lazio: persahabatan dan solidaritas ditempatkan di atas sepak bola itu sendiri.

Stadio Giuseppe Meazza Tanpa Banner dan Flare, 15 November 2007

Empat hari sebelumnya, seorang DJ terkenal di kota Roma, Gabriele Sandri, seorang pendukung ultras Lazio, menjadi korban tak berdosa dalam kerusuhan antara sekelompok suporter anarkis Juventus dan kepolisian kota Roma. Sandri tertembak di bagian belakang kepalanya oleh polisi. Kerusuhan pun meledak, menuntut keadilan. Tidak hanya karena para Laziali menyerang kantor polisi Roma, tapi juga di Milano, oleh Interisti menyerang kantor polisi Milano, menunjukkan solidaritasnya. Untuk menghormati Sandri, Inter menunda sehari pertandingan Inter vs Lazio di Stadio Giuseppe Meazza yang seharusnya digelar 14 November. Saat pertandingan berlangsung, Boys SAN Inter memprakarsai mengheningkan cipta selama 5 menit di stadion untuk menghormati Sandri. Dan malam itu, di Curva Nord Giuseppe Meazza, tempat para Interisti, sama sekali tidak terlihat sepotong pun spanduk, banner ataupun sebuah flare pun yang mereka nyalakan. Kelompok-kelompok ultras Inter hanya membentangkan sebuah spanduk besar dengan tulisan warna biru langit berlatar belakang biru gelap bertuliskan: “Gabriele Sandri, Kau Akan Selalu Berada di Hati Kami”.

Korban Berikutnya, Jersey No 12 SS Lazio, Minggu, 2 Mei 2010

Stadio Olimpico Roma dipenuhi pendukung Lazio dan Inter yang menantikan pertandingan Serie A giornata 36 musim 2009/2010. Pertandingan ini sangat menentukan bagi kedua tim. Bagi inter, memenangi pertandingan ini akan mempermudah meraih Scudetto, dan akan mengambil alih poisisi cappolista dari AS Roma yang sementara unggul 1 poin. Bagi Lazio memenangi pertandingan ini akan lebih mengamankan diri dari kemungkinan degradasi ke Serie B, karena saat itu Lazio berada di posisi 17 dan hanya terpaut 4 poin dari zona merah.

Ritual gamellagio seperti pada pembuka tulisan ini pun dilakukan. Itu hal biasa. Yang luar biasa adalah banyak bendera Inter dan spanduk-spanduk pemberi semangat bagi Inter dikibarkan oleh Irriducibili Lazio. Yang paling mencengangkan tentu saja sebuah spanduk para Laziali yang ditujukkan kepada para pemain Lazio sendiri: “Kalau sampai menit ke 80 Lazio unggul, kami akan masuk ke lapangan!” Spanduk ini disita polisi tak lama kemudian tetapi muncul spanduk-spanduk lain yang tak kalah mengerikan: “Nando (maksudnya Fernando Muslera), biarkan bola melewatimu, dan kami akan tetap menyayangimu.” “Zarate, satu gol saja kau cetak, kami paketkan kau ke Buenos Aires.” Rupa-rupanya para pendukung Lazio ingin agar Inter mengalahkan timnya malam itu, untuk melicinkan jalan Inter menuju scudetto. Mereka lebih memilih risiko Lazio turun ke Serie B daripada Roma yang memperoleh scudetto.

Suasana pertandingan pun menjadi sangat aneh. Lazio sama sekali tidak memperoleh dukungan fans-nya sendiri walaupun bermain di Olimpico. Sebaliknya Inter sebagai tamu justru memperoleh dukungan luar biasa. Setiap kali pemain Inter menguasai bola, para Laziali berteriak, “Biarkan mereka lewat!” Malam itu portiere Lazio, Fernando Muslera, bermain sangat gemilang. Tak kurang dari 10 penyelamatan luar biasa dilakukannya. Tiap kali Muslera menggagalkan gol Inter, teriakan cemoohan pun berkumandang ke arahnya. Akhirnya pada injury time babak pertama, tandukan Walter Samuel mengubah skor menjadi 0-1. Stadion bergelegar dan muncul spanduk ejekan dari Laziali bertuliskan, “Oh, Noooo Roma!” dan, “Scudetto Game Over, Roma!”

Di babak kedua mental pemain Lazio (kecuali Muslera yang tetap bermain gemilang) pun runtuh. Kesalahan demi kesalahan dilakukan dan membuat Thiago Motta menggenapkan kemenangan Inter menjadi 0-2 di menit ke 70. Di akhir pertandingan, para pemain Lazio meninggalkan pertandingan dengan sedih dan marah karena merasa “dihianati” Laziali. Presiden Roma, Rosella Sensi mengecam habis-habisan ulah Laziali tersebut. Jose Mourinho hanya berkomentar pendek, “Saya belum pernah menyaksikan yang seperti ini.” Asisten pelatih Lazio mengakui bahwa anak asuhnya sangat terpengaruh oleh suasana stadion dan tidak bisa menampilkan performa terbaiknya.

Inter akhirnya merebut scudetto 2009/2010 dengan keunggulan 2 poin atas AS Roma. Syukurlah, Lazio mampu memenangi 2 laga sisa, terhindar degradasi dan menempati posisi akhir klasemen di urutan ke 12. Insiden ini membuat presiden Lazio, Claudio Lotito marah besar. Tahun 2003 Lazio memutuskan untuk mengistirahatkan jersey no. 12 sebagai penghormatan pada Irriducibili Lazio sebagai “pemain ke 12”. Tetapi karena kejadian ini (ditambah lagi dengan kehadiran politisi lawan Lotito di tribun Irriducibili Lazio beberapa pertandingan sebelumnya) maka jersey no. 12 ditarik kembali dari peristirahatannya dan pada musim 2010/2011 dipakai oleh portiere kedua Lazio, Tomasso Berni. Musim 2011/2012 jersey no 12 dipakai oleh difensore Marius Stankevicius. Satu bukti lagi, bahwa bagi Irriducibili Lazio, persahabatan dan solidaritas adalah yang terpenting.

Kawan dan Rival Bersama, Bagaimana di Indonesia?

Sejarah telah berbicara, dan akhirnya menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama Lazio dan Inter. Di Indonesia, gamellagio Lazio-Inter ini masih sangat kurang terasa. Tak jarang Laziali dan Interisti justru terlibat perdebatan panas di berbagai grup dan fanpage. Padahal di Italia, persaudaraan ini demikian erat di dunia maya dan di dunia nyata. Yang telah ada adalah menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama. Satu keanehan lagi di Indonesia, Milanisti dan Juventini cenderung bersahabat, sementara di Italia, mereka berdua adalah rival.

(Dari berbagai sumber: forum LaCurvaNord, LazioForever, ForzaInterForums, UltrasLazio dan IrriducibiliLazio).

ditulis oleh Galuh Lazialita Biancoceleste

Lazio Amankan Posisi

Posted in UlTras lazio on 2 Mei 2011 by eko laziale

Menjelang Big Match Lazio kontra Juventus di Olimpico, Roma, yang akan berlangsung dini hari nanti, pasukan I Biancoceleste akan berusaha semaksimal mungkin mengamankan posisi mereka di peringkat 4 klasemen sementara. Lazio yang akan turun tanpa diperkuat sejumlah pilar utama mereka yakni Radu dan juga Sculli yang mengalami cidera, serta Mauri yang terkena kartu merah pekan lalu tidak membuat semangat tim menurun. Dengan kembalinya Matuzalem di lini tengah, Zarate dkk yakin dapat meraih poin penuh dari La Vechia Signora.
Jika dapat meraih kemenangan di partai ini, peluang Lazio ke Liga Champions musim depan akan terbuka lebar. Pasalnya Udinese yang berada di peringkat 5, terpaut 1 poin dari Lazio, mengalami kekalahan atas Fiorentina tadi malam. Bahaya justru datang dari AS Rioma yang menang atas Bari, dan semakin mendekat denga Lazio. Roma kini juga hanya terpaut 1 poin dibawah Lazio. Untuk itu Lazio harus menang atas Juventus untuk mengamankan posisi mereka di zona Champions.LAZIO (4-4-2):

86 Muslera;
2 Lichtsteiner, 20 Biava, 3 Dias, 14 Garrido;
8 Hernanes, 24 Ledesma, 11 Matuzalem, 32 Brocchi;
22 Floccari, 10 Zarate

Cadangan : 12 Berni, 5 Scaloni, 81 Del Nero, 23 Bresciano, 15 Gonzalez, 9 Rocchi, 18 Kozak
Pelatih : Edy Reja

Absen : Diakitè, Radu, Stendardo, Foggia, Sculli, Meghni, Mauri

JUVENTUS (4-4-2):

1 Buffon;
2 Motta, 15 Barzagli, 3 Chiellini, 6 Grosso;
27 Krasic, 4 Felipe Melo, 14 Aquilani, 23 Pepe;
32 Matri, 10 Del Piero.

Cadangan : 13 Manninger, 43 Sorensen, 19 Bonucci, 17 Traore, 7 Salihamidzic, 36 Giandonato, 20 Toni
Pelatih : Delneri
Absen : Marchisio, Martinez, Rinaudo, Sissoko, Quagliarella, Iaquinta, Storari, Grygera

Lazio Kehilangan Mauri

Posted in UlTras lazio with tags , , on 2 Mei 2011 by eko laziale

Pekan Ini Lazio akan menghadapi Juventus dan dipastikan Stefano mauri tidak akan bisa tampil setelah terkena hukuman kartu merah yang diberikan wasit morganti saat laga lawan inter pekan lalu,,pihak lazio sudah mengupayakan banding namun komisi disiplin seri A menolak upaya banding Biancoceleste.

Dalam dua pekan terakhir dipastikan sang kapten Stefano Mauri tidak bisa bertanding saat lawan Juve dan udinese

Sekilas Derby della Capitale

Posted in UlTras lazio with tags , , on 7 Maret 2011 by eko laziale

the Derby della Capitale yang juga dikenal dengan sebutan il Derby Della Capitale, Derby del Cupolone, atau The Rome Derby dalam bahasa Inggris, adalah pertemuan antara tim sepak bola yang berbasis di ibu kota Italia, Roma. SS Lazio dan AS Rioma adalah kedua tim yang dimaksud.

Pertandingan ini telah dinilai sebagai derby paling sengit di Italia dibandingkan derby lokal lainnya seperti Derby della Madonnina (Milan) dan Derby della Mole (Turin), dan telah menjadi salah satu derby ibu kota terbesar dan terpanas di Eropa. Hal ini secara historis telah ditandai dengan kehadiran massa yang besar di stadion, panasnya persaingan, dan tentu saja kekerasan seperti aksi rasis saat pertandingan yang terjadi akhir-akhir ini.

Dua insiden ekstrim telah meninggalkan jejak buruk pada sejarah derby ini. Pada tahun 1979, seorang pendukung Lazio, Vincenzo Paparelli dipukul di bagian mata dan terbunuh oleh mercon yang ditembakkan oleh seorang pendukung Rioma dari ujung stadion. Ia menjadi korban tewas pertama akibat kekerasan di sepak bola Italia, pada derby berikutnya para ultras Lazio membalas dengan membunuh fans Rioma.Pada tahun 2004 sebuah peristiwa yang tak terduga terjadi ketika pendukung ultras Rioma memaksa permainan untuk ditunda setelah tersebar desas-desus palsu bahwa seorang anak telah dibunuh oleh polisi sebelum awal permainan.

Dalam derby terakhir pada bulan Desember 2009 musim lalu, wasit juga terpaksa harus menghentikan pertandingan selama sekitar tujuh menit pada saat pertandingan masih berjalan 13 menit di babak pertama. Pemicunya adalah kembang api yang dilemparkan ultras Lazio ke dalam lapangan.


Pendukung Lazio saat derby Roma
RIVALITAS YANG SUDAH MENJADI KEBUDAYAAN

Penduduk Roma sepertinya ingin mengatakan kepada dunia bahwa Derby della Capitale lebih dari sekedar permainan. Klub AS Rioma didirikan sebagai hasil penggabungan dari tiga tim, Roman, Alba-Audace dan Fortitudo, yang merupakan perintah dari rezim fasis yang berkuasa dan diprakarsai oleh Italo Foschi. Hal itu disengaja oleh diktator fasis Benito Mussolini untuk membuat sebuah klub asal Roma yang kuat untuk menantang dominasi klub utara. Namun berkat pengaruh salah satu Jendral Fasis, Giorgio Vaccaro, Lazio memberanikan diri menjadi satu-satunya tim utama dari Roma yang menolak merger tersebut, yang kemudian membuat semacam persaingan dengan AS Roma dari tahun ke tahun.

Pertandingan pertama antara kedua tim diselenggarakan pada tanggal 8 Desember 1929 dan Roma berhasil keluar sebagai juaranya dan persaingan dengan cepat tumbuh di antara kedua tim. Sebenarnya penggemar kedua tim memiliki kesamaan yang dasar yaitu sangat membenci arogansi tim utama Italia bagian utara. Namun karena fakta bahwa Lazio dan Rioma tidak banyak memenangkan piala dibandingkan dengan raksasa dari utara, maka derby ini seperti menjadi pelampiasan bagi mereka untuk membuktikan siapa yang paling dominan di ibukota. Ketidakmampuan mereka untuk dominan di Italia dialihkan untuk menguasai Roma.

Pandangan kedua pendukung yang sempit semakin memperpanas persaingan. Mereka menganggap pertandingan ini sebagai pertempuran antara dua klub untuk memperjuangkan hak untuk mewakili kota-kota di seluruh negara.

Selain itu, penyebab lainnya adalah mengenai asal usul kedua tim. Lazio yang didirikan di distrik Prati pada awalnya berlatih dan bermain di lapangan Rondinella. Sedangkan Roma mulai bermain di Motovelodromo Appio dan kemudian ketika stadion baru mereka selesai dibangun, mereka pindah ke sekitar Testaccio. Hal ini membuat pernyataan ironis, yang dikenal sebagai Sfottò, yang berbicara pada asal usul pendukung kedua tim. Laziale dianggap sebagai orang luar karena mereka diduga berasal dari luar kota Roma. Namun mereka menjawabnya dengan menyatakan bahwa Lazio masuk ke Roma pada tahun 1900, lebih cepat dari AS Rioma yang baru didirikan pada tahun 1927.

Derby Roma juga telah menjadi tempat aksi yang berkaitan dengan politik, sosial dan ekonomi dari beberapa basis pendukung. Kelompok ultras Lazio sering menggunakan swastika dan simbol fasis di spanduk mereka dan mereka telah memperlihatkan perilaku rasis dalam beberapa kesempatan selama pertandingan. Terutama pada derby musim 1998-99 ketika Laziale membentangkan sebuah spanduk berukuran 50 meter bertuliskan, “Auschwitz is your town, the ovens are your houses”. Pemain berkulit hitam dari Roma adalah sasaran dari perilaku rasis dan ofensif tersebut.

Sebuah banner kelompok ultras Lazio juga pernah memajang tulisan “Team of blacks followed by Jews” untuk membalas kelompok ultras Rioma yang sebelumnya mengejek dengan tulisan “Team of sheep followed by shepherds”. Pada tahun 2000 pendukung Lazio menunjukkan dukungan mereka untuk kelompok nasionalis Serbia dan penjahat perang Arkan.

Secara resmi, pihak klub telah menjauhkan diri dari pendukung-pendukung semacam ini, yang membentuk kelompok-kelompok minoritas bergaris keras, dan berjuang untuk memerangi tindakan-tindakan mereka yang merugikan.
KERIBUTAN DI MUSIM SEMI 2004

Derby pada tanggal 21 Maret 2004 terpaksa harus terhenti pada empat menit memasuki babak kedua, dengan skor sementara 0-0, ketika huru-hara pecah di tribun penonton dan presiden Liga Sepakbola Italia, Adriano Galliani, memerintahkan wasit Roberto Rosetti untuk menangguhkan pertandingan.

Kerusuhan, yang diwarnai saling melempar kembang api, dimulai dari penyebaran desas-desus bahwa seorang anak laki-laki tewas tertabrak mobil polisi di luar stadion. Cerita ini cepat menyebar ke para pemain ketika tiga pemimpin kelompok ultras LAZIO berjalan memasuki lapangan untuk berbicara dengan Francesco Tot**, kapten Rioma. Mereka mengancam Totti, yang terdengar di siaran TV sebagai sebuah ancaman kematian. Tot** kemudian meminta untuk menghentikan pertandingan, dan Adriano Galliani yang dihubungi oleh wasit melalui telepon selular dari lapangan akhirnya memerintahkan permainan ditunda.

Setelah itu pertempuran berkepanjangan antara para penggemar dan polisi pun terjadi, beberapa stan yang berdiri dibakar dan orang-orang berlarian keluar stadion. Kerusuhan akhirnya berakhir dengan 13 orang diamankan dan lebih dari 170 polisi mengalami luka-luka. Polisi terpaksa harus memakai gas air mata setelah penggemar terus-terusan melempar kembang api dan mulai membakar mobil dan sepeda motor di luar stadion.

Ternyata rumor kematian anak yang menjadi pemicu kerusuhan itu adalah palsu. Banyak teori muncul untuk menjelaskan mengapa sekelompok ultras menginginkan permainan saat itu dihentikan. Diyakini bahwa ultras hanya ingin menyerang polisi, dan memberikan kesempatan untuk mendemonstrasikan kekuasaan mereka.

Pertandingan itu diulang pada tanggal 28 Maret dan berakhir imbang 1-1 tanpa terjadi masalah. Hasil imbang tersebut membuat Rioma telah menyia-nyiakan kesempatan terakhir mereka untuk mengejar pemimpin Serie A saat itu AC Milan. 

JAKET LAZIO INDONESIA

Posted in UlTras lazio with tags on 25 Januari 2011 by eko laziale

Jacket Eko’s Collections 

1. barang preorder bukan ready stok2.
WAKTU PRODUKSI: 2-4 minggu (konfirmasi).
3. Prize : 135.000 ( belum termasuk ongkir )
4. full bordir Komputer Depan Belakang

SIZE (patokan jaket original adidas asian size)

XS : panjang = 60 ; Lebar = 44; Panjang Lengan = 57

S : Panjang = 63 ; Lebar = 48 ; Panjang Lengan=59

M : Panjang = 66 ; Lebar = 52 ; Panjang Lengan = 61

L : Panjang = 69 ; Lebar = 56 ; Panjang Lengan = 63

XL : Panjang = 72 ; Lebar = 60 ; Panjang Lengan = 65

XXL : Panjang = 74 ; Lebar = 64 ; Panjang Lengan = 67

XXXL : Panjang = 75 ; Lebar = 68 ; Panjang Lengan = 69

Minat ?
Langsung hubungi (sms/call): Eko 085865399657

lihat selengkapnya :

Derby della capitale

Posted in UlTras lazio on 5 November 2010 by eko laziale

“The Derby della Capitale is “much more than just a game”. The derby has been historically marked by massive crowds, excitement, violence and – recently – racist banners in the crowd.”

Derby della Capitale yang artinya derby ibukota, yang juga dikenal sebagai il Derby Capitolino dan Derby del Cupolone atau Derby kota Roma adalah sebuah derby terpanas di Italia antara dua buah klub sepakbola terbesar di kota Roma. Adalah SS Lazio dan AS Roma yang memiliki para pendukung fanatik hingga menjadikan derby ini sebagai sebuah pertaruhan gengsi dengan ciri khas tngkat keramaian, kehebohan, kerusuhan yang sangat tinggi.

Derby della Capitale di Stadion Olimpico, Roma ini terbagi menjadi 2 kubu yang mendukung masing-masing klub SS Lazio dan AS Roma. Ultras Lazio menempati Tribun Utara atau dikenal sebagai Curva Nord, sedangkan ultras Roma di Tribun Selatan (Curva Sud).

Rivalitas kedua ultras Lazio dan Roma ini memiliki sejarah cukup kelam, dimana dala derby ini pernah terjadi sebuah insiden yang telah memakan koban jiwa akibat kerusuhan ekstrim di tahun 1979. Yakni saat salah satu suporter Lazio, Vicenzo Paparelli tewas akibat lemparan petasan oleh fans Roma. Kerusuhan di tahun 2004 juga pernah terjadi hingga presiden Sepakbola Liga Italia saat itu, Adriano Galliani memberi perintah kepada wasit untuk menghentikan pertandingan yang telah berjalan setengah pertandingan.

Untuk sejarah pertemuan kedua klub tersebut, berdasarkan wikipedia total pertandingan yang telah mempertemukan kedua klub ibukota tersebut telah mencapai tota 161 pertandingan, dengan Lazio memenangkan 44 pertandingan, seri 59 pertandingan dan kalah 58 pertandingan.

berikut adalah data statistik Derby della Capitale serta beberapa catatan rekor pertemuan kedua tim tersebut. (sumber : Wikipedia)

  1. Derby pertama dilangsungkan pada tanggal 8 Desember 1929, yang berakhir 1-0 untuk kemenangan Roma, gol dicetak oleh Rudolfo Volk.
  2. Lazio memenangkan Derby pertama kali pada tanggal 23 Oktober 1932, dengan skor 2-1 oleh Demaria, Castelli (L) dan Volk (R).
  3. Tanggal 29 November 1953 adalah pertama kali Derby della Capitale dilangsungkan di Stadion Olimpico, Roma, yang berakhir dengan kedudukan seri 1-1, gol oleh Carlo Galli (R) dan Paquale Vivolo (L).
  4. Kemenangan terbesar Roma adalah di tahun 1933/1934 dengan skor 5-0, sedangkan kemenangan terbesar Lazio yaitu di tahun 2006/2007 dengan skor 3-0
  5. Lazio mencetak rekor dengan membubuhkan kemenangan beruntun terbanyak dalam satu musim penuh yakni 4 kali derby di musim 1997/1998 dengan 2 kemenangan liga (3-1 dan 2-0) serta 2 kemenangan di perempat final Coppa Italia (4-1 dan 2-1)

Rekor Pemain

  1. Fransesco Totti adalah pemain yang paling banyak melakoni Derby della Capitale, sebanyak 27 partai. Pemain Lazio yang paling banyak bermain dalam Derby della Capitale adalah Aldo Pulcinelli dan Guiseppe Wilson, yakni sebanyak 19 partai.
  2. Dino Da Costa dan Marco Delvecchio adalah pemain yang paling banyak mencetak gol pada Derby della Capitale dengan 9 gol. Sedangkan untuk pemain Lazio terbanyak adalah Silvio Piola dengan 6 gol.
  3. Vincenzo Montella mencetak rekor dengan gol terbanyak dalam satu partai derby, yakni saat mencetak 4 gol pada derby tanggal 11 Maret 2002 saat mengalahkan Lazio 5-1.
  4. Arne Selmosson adalah satu-satunya pemain yang pernah mencetak gol dalam Derby untuk SS Lazio dan AS Roma.
  5. Beberapa nama pemain yang pernah membela Lazio ataupun Roma dalam Derby della Capitale ini, yakni Fulvio Bernardini, Luigi Di Biagio, Attilio Ferraris IV, Diego Fuser, Lionello Manfredonia, Sinisa Mihajlovic, Angelo Peruzzi, Arne Selmosson, Sebastiano Siviglia dan Roberto Muzzi.

 

Angelo Peruzzi, Diego Fuser dan Sebastiano Sivigila adalah beberapa
nama yan pernah membela SS Lazio dan AS Roma dalam Derby della Capitale