Arsip untuk seri A

gamellaggio ( Inter—Lazio )

Posted in UlTras lazio with tags , , , on 22 Januari 2012 by eko laziale

Sebuah Catatan Panjang Sejarah dan Kejadian Dramatis

Stadio Giuseppe Meazza, San Siro, Milano, 23 April 2011. Menjelang laga Inter vs Lazio di pekan-pekan terakhir yang krusial di Serie A musim 2011/2012. Lazio sedang bersaing keras dengan Udinese untuk mengamankan tempat di UCL dan Inter sedang berjuang keras menghidupkan asa scudetto yang hampir pasti diraih AC Milan. Ketika kedua tim memasuki lapangan, dari salah satu bagian stadion puluhan flare warna biru langit dinyalakan, disusul pekikan ribuan orang: “A Roma Ce Solo Lazio” atau “Di Kota Roma Hanya Ada Lazio”. Kita yang hanya menyaksikan lewat televisi tentu mengira itu adalah ulah suporter Lazio. Sebenarnya bukan, flare dan teriakan itu justru dilakukan dari Curva Nord Stadio GM oleh puluhan ribu Interisti yang tergabung dalam Boys SAN dan beberapa kelompok ultras Inter lainnya. Baru setelah itu dari sisi Irriducibili Lazio dinyalakan flare warna biru gelap (warna Inter) dan para Laziali meneriakkan “Forza Inter Ale”. Itu adalah ritual selamat datang dari Interisti untuk Laziali dan tanda persahabatan Laziali bagi Interisti. Ritual itu sudah berusia lebih dari satu dekade sejak kedua kelompok suporter ultras menjalin gamellaggio (twinning, persaudaraan). Di Stadio Olimpico, ritual dilakukan sebaliknya. Irriducibili Lazio menyalakan flare biru gelap disertai teriakan “Forza Inter Ale” dan dibalas oleh Interisti dengan flare biru langit dan teriakan “A Roma Ce Solo Lazio.”

Mengapa kita bersahabat dengan Lazio? Karena sama-sama menempati Curva Nord? Dan mengapa Lazio berseteru dengan AS Roma? Karena menghuni kota yang sama? Itu memang salah satu alasan tetapi latar belakang sesungguhnya adalah sebuah sejarah panjang dan kompleks, dimulai bahkan dari saat awal eksistensi kedua klub itu.

Takdir Mulai Saat Kelahiran

SS Lazio dibentuk tahun 1900 oleh para politisi dan usahawan berhaluan politik kanan dan anti-Yahudi serta berbasis pendukung kaum terpelajar dan kalangan menengah-atas Roma. Kelompok berhaluan serupa juga lah yang mendirikan Inter saat melepaskan diri dari AC Milan tahun 1908.

Saat diktator fasis Benito Mussolini berkuasa di Italia, dia memerintahkan semua klub di kota Roma di-merger menjadi AS Roma tahun 1927. Semua mematuhi, kecuali SS Lazio yang menentang dan tetap berdiri sendiri. AS Roma dikuasai oleh golongan kiri dan didukung oleh kelas buruh dan masyarakat Yahudi (kelompok serupa yang mendukung AC Milan). Di kota Milan, Mussolini melakukan hal yang sama, dan Inter melakukan penentangan yang sama sehingga sementara harus berganti nama menjadi Ambrosiana Milano. Sejarah awal ini telah menyemai ikatan antara SS Lazio dan Inter serta menempatkan AS Roma dan AC Milan pada pihak yang berseberangan. Lokasi yang sama di Curva Nord (Lazio dan Inter) dan di Curva Sud (AS Roma dan AC Milan) makin mempertajam perbedaan ini. Dan, tentu saja, faktor lokasi di Kota yang sama menjadikan persaingan Lazio-Roma menjadi semakin memanas. Lazio dan pendukungnya merasa sebagai yang pertama di Roma, sedangkan AS Roma menganggap dirinya satu-satunya klub yang menyandang nama kota.

Persaingan ini sedemikian panasnya, sehingga Derby della Capitale (SS Lazio vs AS Roma) dinobatkan sebagai derbi paling panas di Italia bahkan di Eropa, melebihi Derby della Madoninna (Inter vs Milan), Derby Manchester (MU vs Manchester City) bahkan mengungguli El Classico (Barcelona vs Madrid). Kalau Interisti dan Milanisti hanya panas di dunia maya tetapi bersahabat di dunia nyata, Laziali dan Romanisti berseteru dalam arti sebenarnya, di dunia maya maupun di dunia nyata. Hampir tak pernah terjadi Derby della Capitale tanpa kerusuhan. Tercatat beberapa nyawa melayang dan ratusan orang telah terluka karena derbi ini. Derby della Capitale adalah “neraka” sepakbola Italia.

Gamellaggio Lazio-Inter

Persaudaraan ini terjadi sepanjang sejarah. Tak pernah ada catatan insiden antara Laziali dan Interisti. Kesamaan aliran politik dan basis pendukung membuat kedua kelompok suporter ini selalu rukun. Gamellaggio secara formal terjadi saat kedua suporter bertemu dalam final UEFA Cup tahun 1998 di Paris yang dimenangkan Inter dengan 3-0. Sikap ksatria Irriducibili Lazio dan sikap simpatik Boys SAN Inter membuat kedua suporter mendapatkan penghargaan fair play dari UEFA. Dan saat itu tercapailah kesepakatan persaudaraan antara Laziali dan Interisti yang makin menguat hingga hari ini.

Inilah beberapa kejadian unik yang menunjukkan eratnya gamellagio Lazio-Inter:

Nasib Tragis Zaccheroni, 5 Mei 2002

Pada pertandingan giornata 34 musim 2001/2002 tanggal (match terakhir, karena saat itu Serie A hanya berisi 18 tim), terjadi peristiwa yang unik di Stadio Olimpico pada laga Lazio vs Inter. Saat itu Inter di ambang juara karena cukup dengan mengalahkan Lazio maka mereka akan meraih scudetto mengungguli Juventus. Maka Laziali di Stadio Olimpico, dimotori Irriducubili Lazio mendukung Inter habis-habisan dan meminta Lazio kalah, agar yang mendapatkan scudetto Inter, rival Lazio: Juventus. Sayangnya malam itu para punggawa Nerazzurri gagal meraih scudetto yang sudah di depan mata, kalah 2-4 dari Biancoceleste. Dan Juventus merebut scudetto dengan 71 poin, diikuti Roma dengan 70 poin. Inter sendiri di posisi ketiga dengan 69 poin. Akibat kejadian ini, Irriducibili Lazio mendemo manajemen Lazio dan meminta allenatore Lazio, Alberto Zaccheroni dipecat. Zaccheroni pun akhirnya mengundurkan diri. Dia dimusuhi Laziali justru karena timnya memenangkan laga. Ironis, tapi itulah jiwa Irriducibili Lazio: persahabatan dan solidaritas ditempatkan di atas sepak bola itu sendiri.

Stadio Giuseppe Meazza Tanpa Banner dan Flare, 15 November 2007

Empat hari sebelumnya, seorang DJ terkenal di kota Roma, Gabriele Sandri, seorang pendukung ultras Lazio, menjadi korban tak berdosa dalam kerusuhan antara sekelompok suporter anarkis Juventus dan kepolisian kota Roma. Sandri tertembak di bagian belakang kepalanya oleh polisi. Kerusuhan pun meledak, menuntut keadilan. Tidak hanya karena para Laziali menyerang kantor polisi Roma, tapi juga di Milano, oleh Interisti menyerang kantor polisi Milano, menunjukkan solidaritasnya. Untuk menghormati Sandri, Inter menunda sehari pertandingan Inter vs Lazio di Stadio Giuseppe Meazza yang seharusnya digelar 14 November. Saat pertandingan berlangsung, Boys SAN Inter memprakarsai mengheningkan cipta selama 5 menit di stadion untuk menghormati Sandri. Dan malam itu, di Curva Nord Giuseppe Meazza, tempat para Interisti, sama sekali tidak terlihat sepotong pun spanduk, banner ataupun sebuah flare pun yang mereka nyalakan. Kelompok-kelompok ultras Inter hanya membentangkan sebuah spanduk besar dengan tulisan warna biru langit berlatar belakang biru gelap bertuliskan: “Gabriele Sandri, Kau Akan Selalu Berada di Hati Kami”.

Korban Berikutnya, Jersey No 12 SS Lazio, Minggu, 2 Mei 2010

Stadio Olimpico Roma dipenuhi pendukung Lazio dan Inter yang menantikan pertandingan Serie A giornata 36 musim 2009/2010. Pertandingan ini sangat menentukan bagi kedua tim. Bagi inter, memenangi pertandingan ini akan mempermudah meraih Scudetto, dan akan mengambil alih poisisi cappolista dari AS Roma yang sementara unggul 1 poin. Bagi Lazio memenangi pertandingan ini akan lebih mengamankan diri dari kemungkinan degradasi ke Serie B, karena saat itu Lazio berada di posisi 17 dan hanya terpaut 4 poin dari zona merah.

Ritual gamellagio seperti pada pembuka tulisan ini pun dilakukan. Itu hal biasa. Yang luar biasa adalah banyak bendera Inter dan spanduk-spanduk pemberi semangat bagi Inter dikibarkan oleh Irriducibili Lazio. Yang paling mencengangkan tentu saja sebuah spanduk para Laziali yang ditujukkan kepada para pemain Lazio sendiri: “Kalau sampai menit ke 80 Lazio unggul, kami akan masuk ke lapangan!” Spanduk ini disita polisi tak lama kemudian tetapi muncul spanduk-spanduk lain yang tak kalah mengerikan: “Nando (maksudnya Fernando Muslera), biarkan bola melewatimu, dan kami akan tetap menyayangimu.” “Zarate, satu gol saja kau cetak, kami paketkan kau ke Buenos Aires.” Rupa-rupanya para pendukung Lazio ingin agar Inter mengalahkan timnya malam itu, untuk melicinkan jalan Inter menuju scudetto. Mereka lebih memilih risiko Lazio turun ke Serie B daripada Roma yang memperoleh scudetto.

Suasana pertandingan pun menjadi sangat aneh. Lazio sama sekali tidak memperoleh dukungan fans-nya sendiri walaupun bermain di Olimpico. Sebaliknya Inter sebagai tamu justru memperoleh dukungan luar biasa. Setiap kali pemain Inter menguasai bola, para Laziali berteriak, “Biarkan mereka lewat!” Malam itu portiere Lazio, Fernando Muslera, bermain sangat gemilang. Tak kurang dari 10 penyelamatan luar biasa dilakukannya. Tiap kali Muslera menggagalkan gol Inter, teriakan cemoohan pun berkumandang ke arahnya. Akhirnya pada injury time babak pertama, tandukan Walter Samuel mengubah skor menjadi 0-1. Stadion bergelegar dan muncul spanduk ejekan dari Laziali bertuliskan, “Oh, Noooo Roma!” dan, “Scudetto Game Over, Roma!”

Di babak kedua mental pemain Lazio (kecuali Muslera yang tetap bermain gemilang) pun runtuh. Kesalahan demi kesalahan dilakukan dan membuat Thiago Motta menggenapkan kemenangan Inter menjadi 0-2 di menit ke 70. Di akhir pertandingan, para pemain Lazio meninggalkan pertandingan dengan sedih dan marah karena merasa “dihianati” Laziali. Presiden Roma, Rosella Sensi mengecam habis-habisan ulah Laziali tersebut. Jose Mourinho hanya berkomentar pendek, “Saya belum pernah menyaksikan yang seperti ini.” Asisten pelatih Lazio mengakui bahwa anak asuhnya sangat terpengaruh oleh suasana stadion dan tidak bisa menampilkan performa terbaiknya.

Inter akhirnya merebut scudetto 2009/2010 dengan keunggulan 2 poin atas AS Roma. Syukurlah, Lazio mampu memenangi 2 laga sisa, terhindar degradasi dan menempati posisi akhir klasemen di urutan ke 12. Insiden ini membuat presiden Lazio, Claudio Lotito marah besar. Tahun 2003 Lazio memutuskan untuk mengistirahatkan jersey no. 12 sebagai penghormatan pada Irriducibili Lazio sebagai “pemain ke 12”. Tetapi karena kejadian ini (ditambah lagi dengan kehadiran politisi lawan Lotito di tribun Irriducibili Lazio beberapa pertandingan sebelumnya) maka jersey no. 12 ditarik kembali dari peristirahatannya dan pada musim 2010/2011 dipakai oleh portiere kedua Lazio, Tomasso Berni. Musim 2011/2012 jersey no 12 dipakai oleh difensore Marius Stankevicius. Satu bukti lagi, bahwa bagi Irriducibili Lazio, persahabatan dan solidaritas adalah yang terpenting.

Kawan dan Rival Bersama, Bagaimana di Indonesia?

Sejarah telah berbicara, dan akhirnya menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama Lazio dan Inter. Di Indonesia, gamellagio Lazio-Inter ini masih sangat kurang terasa. Tak jarang Laziali dan Interisti justru terlibat perdebatan panas di berbagai grup dan fanpage. Padahal di Italia, persaudaraan ini demikian erat di dunia maya dan di dunia nyata. Yang telah ada adalah menempatkan AS Roma, AC Milan dan Juventus sebagai rival bersama. Satu keanehan lagi di Indonesia, Milanisti dan Juventini cenderung bersahabat, sementara di Italia, mereka berdua adalah rival.

(Dari berbagai sumber: forum LaCurvaNord, LazioForever, ForzaInterForums, UltrasLazio dan IrriducibiliLazio).

ditulis oleh Galuh Lazialita Biancoceleste

Sang kapten bela reja dan zarate

Posted in UlTras lazio with tags on 8 Maret 2010 by eko laziale

Dalam situasi seperti itu, sulit bagi Zarate untuk tetap merasa tenang.
Genoa – Lazio kembali gagal meraih poin penuh di Serie A, yang merupakan target mereka di setiap pertandingan sisa musim ini guna menjauhkan diri dari zona degradasi. Kali ini mereka dipecundangi Sampdoria 1-2.

Dalam laga tersebut, Lazio tak hanya dirugikan dengan kekalahan, tapi mereka juga dirugikan oleh wasit yang memimpin laga yang berlangsung di Luigi Ferraris itu.

Tiga kartu kuning dan dua kartu merah yang diberikan kepada Lazio merupakan kejadian kontroversial dalam laga ini. Dua kartu merah tersebut diberikan sang pengadil kepada pelatih Edy Reja dan striker Mauro Zarate. Keduanya diusir karena memprotes keputusan sang wasit. Dan bila anda penonton pertandingan ini, pasti anda dapat memaklumi aksi protes yang dilakukan pihak Lazio.

Wasit Christian Brighi terlihat memihak Il Samp dalam laga ini, dan hal itu pula yang dirasakan oleh kapten Lazio, Tommaso Rocchi dalam wawancaranya bersama Sky Sport.

“Hal yang wajar ketika pelatih melakukan protes. Di tengah ia meragukan kepemimpinan wasit, timnya sedang ketinggalan,” ujar striker yang biasa disapa Tomas itu.

“Soal pengusiran Zarate, itu sangat jelas kalau Mauro dilanggar, dan di dalam situasi seperti itu, sulit untuk tetap merasa tenang,” katanya lagi.

Kapten kemudian diminta menanggapi mengenai aksi ‘mogok nonton’ yang dilakukan para tifosi terhadap klubnya. Pasalnya, Lazio akan kembali tampil di stadion Olimpico pekan depan untuk menantang Bari.

“Saya kira ini adalah tugas kami untuk membujuk para fans kembali ke stadion.”

“Saya mengharapkan itu, karena akan dapat membantu tim untuk segera menjauh dari zona degradasi,” tutupnya.

Bicara soal penonton, sebelum laga Sampdoria melawan Lazio, dilaporkan terjadi bentrokan antar kedua kubu fans. Kabar menyebutkan para Sampdoriani mengejek para fans Lazio yang berada di luar stadion. Hal itu memacu kemarahan para Laziali dan bentrokan pun tak dapat dihindarkan.

Polisi yang datang akhirnya dapat membubarkan perseteruan itu. Sepuluh orang ditahan karena dianggap sebagai provokator bentrokan antar fans ini. Ada pula kabar yang menyatakan bahwa seorang ultras Lazio terluka. Kepalanya berdarah usai dihantam benda tumpul. Ia pun langsung mendapat perawatan.

Palermo vs Lazio : 3-1 Hal Biasa

Posted in UlTras lazio with tags , on 24 Februari 2010 by eko laziale

habis menang terbitlah kalah,sesuatu yang gak asing bagi para pecinta pasukan biru langit,kemarin setelah membungkam parma dikandangnya,sekarang gantian di buat kalang kabut oleh palermo di stadion renzo barbera.

Palermo yang minggu lalu di tekuk Rioma merda,masih percaya diri dengan bermain gemilang,ini membuktikan bahwa dirinya masih bisa bersaing di papan atas dan mengejar posisi untuk zona champion.

Pada menit-menit awal abel hernandes berhasil memperdaya kolarov dan menaklukan muslera lazio tertinggal.

Aksi menawan miccoli terpaksa dihentikan oleh penjaga gawang lazio ( muslera ) wasit memberikan  kartu kuning untuk penjaga gawang Lazio serta palermo dihadiahi pinalti dan miccoli sendiri yang mengeksekusi tendangan pinalti itu dan berhasil menambah gol buat timnya pada menit ke 28.

Serangan – serangan Lazio terjadi pada menit akhir babak pertama.

Pada babak kedua edy reja merubah sistem permainan lambat lazio dan berhasil menekan pertahanan Palermo namun tak membuahkan hasil,Malah barisan pertahanan Lazio yang mencoba membuat perangkap offside untuk nocerino gagal,akibatnya nocerino berhasil membobol gawang lazio untuk yang ketiga kalinya.

Tendang keras kolarov pada menit yang ke 79′ berhasil memperkecil kekalahan Lazio.

Dengan kekalahan ini Lazio harus mundur sejenak dari Klasemen sementara liga Seri A.

Show Must Go On

Forza Lazio………..

juve VS Lazio

Posted in UlTras lazio with tags on 31 Januari 2010 by eko laziale
Juventus vs Lazio
1 Februari 2009, 02.45 WIB
Olimpico, Turin
Live on Telkomvision 2

Siapakah yang terbaik di antara yang terburuk?
Turin – Setelah tersingkir dari kompetisi Eropa yang mereka ikuti musim ini, kedua tim kembali harus mengucapkan selamat tinggal pada kompetisi lokal. Kali ini, keduanya tersingkir di Coppa Italia 2009/2010. Lazio dibenamkan Fiorentina, dan Juventus diremukkan Inter Milan. Parahnya lagi, kedua klub juga mengalami nasib tidak bagus di Serie A, keduanya terpuruk. Lazio berjuang di papan bawah, sedangkan Juventus tersisih dari zona Champions League.

Dan hari Minggu ini (31/1), keduanya akan beradu gengsi di Stadio Olimpico Turin, untuk membuktikan siapakah yang terbaik di antara yang terburuk.

Tim tamu Lazio benar-benar tidak dalam kondisi yang baik. Setelah tampil mengejutkan di awal tahun ini, penampilan Lazio kini kembali menurun. Sejak dikalahkan Atalanta di giornata 20, Lazio kemudian tersingkir dari Coppa Italia karena dikalahkan Fiorentina dengan skor 2-3 di babak perempatfinal. Terakhir, mereka hanya bisa bermain imbang di kandang sendiri dengan Chievo 1-1, di giornata 21 Serie A.

Baca lebih lanjut

Bidone D’oro untuk baptista

Posted in UlTras lazio with tags , , on 22 November 2009 by eko laziale

Dalam sepak bola kita pasti mengenal berbagai macam penghargaan seperti: gelar pemain terbaik atau biasa kita sebut ballone d’oro,tapi kali ini ada penghargaan untuk para pemain terburuk dan salah satunya adalah pemain “Asu Rioma Merda” ..

Mungkin kita pernah tahu” julio merda baptista” sosok yang mencetak gol kemenangan atas Asu Roma Merda vs lazio dimusim lalu,kini baptista menjadi salah satu kandidat pemain terburuk di SERI A,untuk para laziale mari kita dukung sepenuhnya baptista Merda untuk menjadi pemain terburuk di seri A,caranya dengan klik link disamping ini [Bidone d’oro ataugelar pemain terburuk di SERI A] dan dukung baptista caranya dengan mengeklik bulatan didepan nama baptista,supaya baptista menang dan mendapatkan gelar itu.

di skuad lazio musim lalu juga ada yaitu juan pablo carizzo.namun kini ia tidak berada lagi di lazio jadi lupakan dulu,kini ayo ramai-ramai dukung baptista “srigala pesakitan dari RIOMA MERDA”!!!!!!

Review Bari VS Lazio

Posted in UlTras lazio with tags , , on 27 Oktober 2009 by eko laziale

Bari vs Lazio 2-0

lazialeApa yang didapat Lazio saat dijamu Bari memperlihatkan seluruh kelemahan Lazio di musim ini, bobroknya lini belakang, kurang kreasinya lini tengah serta tak mampunya lini depan memanfaatkan segala peluang yang ada. Pelajaran harus di petik anak asuh Ballardini dari pertandingan melawan Bari minggu kemarin.
Baca lebih lanjut

Bari mimpi buruk bagi Lazio

Posted in UlTras lazio with tags , , on 26 Oktober 2009 by eko laziale

ballardiniLazio seperti diajari bagaimana mengatur organisasi permainan dan disiplin dalam sepakbola oleh tuan rumah Bari. Kekalahan 2-0 disambut pelatih Davide Ballardini dengan nada masam.

“Kami tidak menjalani hari yang baik,” ujarnya usai pertandingan kepada Sky Sport.

“Kami menghadapi tim yang lebih terorganisir dan kami gagal menunjukkan penampilan bagus. Aku risau tidak hanya soal hasil, tapi juga bagaimana kami menderita kekalahan.”

Saat ditanyakan apakah absennya Goran Pandev dan Cristian Ledesma, yang masih diasingkan, merupakan salah satu alasan buruknya penampilan Lazio, Ballardini menjawab, “Petang ini kami tampil buruk secara kolektif, jadi seluruh skuad termasuk aku bertanggungjawab terhadap penampilan ini.”