Arsip untuk UlTras lazio

Prediksi : Lazio VS Napoli

Posted in UlTras lazio with tags , on 1 Desember 2013 by eko laziale

LAZIO

ROMA – Kemenangan di liga eropa harus dilupakan anak asuh petkovic,pasalnya pada senin 3 desember lazio akan kedatangan tamu yang tak kalah mentereng,yaa… Napoli akan mencoba menunjukkan bahwa kekalahan dari Parma hanyalah usikan kecil. Musim ini, Partenopei mempunyai banyak alasan yang mempertegas diri mereka sebagai penantang utama Juventus meski hanya menyisakan seorang bintang lama. Pasukan Ralael Benitez gagal menjaga jarak tiga angka dari Juventus. Jarak kini melebar menjadi enam poin.

Napoli masih belada di zona Liga Champion. Keunggulan Gonzalo Higuain dkk. hanya dua angka dari Inter Milan dan empat dari Fiorentina. Neapolitano juga masih tertinggal dari Roma. Akan tetapi, mereka masih dapat menyodorkan konsistensi yang lebih baik daripada klub ibu kota untuk menjadi penantang utama scudetto bagi La Vecchia Signora.

Benitez telah menularkan permainan operan ke tim barunya. Napoli kini mencatat jauh lebih banyak operan dibandingkan ketika ditangani Walter Mazzarri musim silam yang berakhir dengan posisi runner-up. Eks pelatih Liverpool ini juga mampu menerapkan 4-2-3-1 menggantikan 3-5-2 ala Mazzarri dengan hasil yang bagus.

Transisi mulus ini makin mengesankan bila mengingat Azzurrin ditinggal sejumlah pemain terbaiknya. Kepergian Ezequiel Lavezzi, diikuti Edinson Cavani, keduanya ke PSG, menjadikan Marek Hamsik sebagai satu dari Three Tenors yang tersisa di San Paolo.

Musim lalu, kretivitas pemain Slovakia ini hanya kalah dari Francesco Totti dan Andrea Pirlo dalam beberapa aspekpenciptaan peluang. Hamsik melepaskan 14 assist, hanya sebuah lebih sedikit dari total peluang bersih yang ia buat. Ia juga menorehkan 29 operan membelah pertahanan lawan yang akurat dari 35 penampilannya berseragam biru Partenopei.

Peran kreatif tersebut tak lagi dipikul Hamsik sendirian pada 2013/14 ini. Untuk assist, striker tersebut tak lagi dipikul Hamsik sendirian pada 2013/14 ini.

Untuk asisst, striker pujaan publik San Paolo yang baru, Higuain, memimpin tim dengan tiga buah asisst. Lima pemain lain mencatat lima assist, diikuti Raul Albiol dengan sebuah assist. Total assist yang dibuat Hamsik? Masih kosong.

Higuain pula yang membuat tembakan per gim terbanyak (2,8). Hamsik bersama Lorenzo Insigne dan Gokhan Inler menyusul dengan 2,2 geberan per laga.

Operan kunci terbanyak dibuat Juan Zuniga (2,3), diikuti Insigne (1,8), dan Hamsik (1,7). Zuniga pula yang memimpin statistik rata-rata dribel dengan 3,5 giringan per partai, jauh meninggalkan Hamsik yang hanya mencatat 0,6.

Penggiringan bola tampaknya bukan inti permainan yang diinginkan Benitez. Dari 20 tim Serie A, Partenopei cuma membuat 9,5 buah dribel per pertandingan. Torehan ini hanya menempatkan Napoli di peringkat kesembilan bersama Verona dan Livorno, lumayan jauh di bawah Inter Milan (yang merupakan klub baru Mazzarri) dengan 16,1 dribel per laga.

Rafa pun tak menimpakan beban besar di pundak Hamsik untuk operan. Catatan 86,6% operan tepat sasaran gelandang serang berciri khas rambut naik segaris (mohawk) ini berada cukup jauh di bawah Valon Behrami di antara para pemain yang membuat lima kali penampilan. Namun, Benitez cukup paham tingkat kepentingan seorang Hamsik di tubuh Napoli. Ban kapten melingkar di lengan pemain berusia 26 tahun itu. Benitez juga menyebut si pemain memiliki kelebihan dibandingkan dengan kaptennya ketika menukangi Liverpool, Steven Gerrard. “Marek lebih cerdik daripada Gerrard. Ia memiliki kecerdasan taktis yang lebih baik,” ucap pelatih asal Spanyol itu.

Ucapan itu tercetus pada awal musim. Napoli mencatat start yang mengesankan dengan Hamsik menjadi nyawa permainan. Sampai pekan ke-13, Partenopei toh telah menelan tiga kali kekalahan, dengan yang terakhir terjadi di San Paolo di tangan Parma lewat gol tunggal Antonio Cassano. Napoli akan mencoba melupakan hasil itu dengan kemenangan di Olimpico, kandang Lazio pada Senin (2/12).

Head-To-Head Lazio vs Napoli:
10 Feb 2013 (PSA) Lazio 1 – 1 Napoli
27 Sep 2012 (PSA) Napoli 3 – 0 Lazio
08 Apr 2012 (PSA) Lazio 3 – 1 Napoli
20 Nov 2011 (PSA) Napoli 0 – 0 Lazio
03 Apr 2011 (PSA) Napoli 4 – 3 Lazio

Lima Pertandingan Terakhir Lazio:
24 Nov 2013 (PSA) Sampdoria 1 – 1 Lazio
10 Nov 2013 (PSA) Parma 1 – 1 Lazio
08 Nov 2013 (PLE) Lazio 2 – 1 Apollon Limassol
03 Nov 2013 (PSA) Lazio 0 – 2 Genoa
31 Okt 2013 (PSA) AC Milan 1 – 1 Lazio

Lima Pertandingan Terakhir Napoli:
27 Nov 2013 (PLC) Borussia Dortmund 3 – 1 Napoli
24 Nov 2013 (PSA) Napoli 0 – 1 Parma
11 Nov 2013 (PSA) Juventus 3 – 0 Napoli
07 Nov 2013 (PLC) Napoli 3 – 2 Marseille
03 Nov 2013 (PSA) Napoli 2 – 1 Catania

Prediksi susunan pemain Lazio vs Napoli:

Lazio: Marchetti, Ciani, Radu, Konko, Lulic, Onazi, Ledesma, Cana, Candreva, Diao Keita, Floccari.Napoli:

Pepe Reina,Miguel Angel Britos, Raúl Albiol, Christian Maggio, Armero, Behrami, Inler, Callejón, Higuaín, Pandev, Insigne.

sejarah dan masa lalu lazio

Posted in Tak Berkategori with tags , , on 14 Agustus 2009 by eko laziale

LAZIO, masa lalu, masa kini, dan esok

Tepat 9 Januari 2009 Lazio genap 109 tahun, apa yang telah dicapai Lazio merupakan hasil dari sebuah evolusi tim biru langit, kini menghadapi tantangan kedepan Lazio membutuhkan kembali mental juara dan rasa patriot sejati yang jelas hilang setelah masa keemasan Lazio di akhir 90-an dan awal tahun 2000.

inilah sekilas sejarah LAZIO :
SS Lazio (Societa’ Sportiva Lazio) adalah satu dari dua klub sepakbola besar di Kota Roma, Italia. dengan kostum kebanggan berwarna biru langit.

Di dirikan pada tanggal 9 Januri 1900 oleh 9 orang dengan diketuai oleh Luigi Bigirarelli, dengan nama “Societa’ Podistica Lazio” yang awalnya untuk olahraga balap. Dua tahun kemudian, di tahun 1902, Bruno Seghettini, staff dari Racing Club Paris, mengenalkan olah raga sepakbola kepada tim Lazio. Mereka akhirnya memulia mengenalkan Sepakbola di kota Roma dan membuat Klub Lazio, dan mereka tak terkalahkan. bahkan mereka ikut serta dalam Turnamen Nasional.

Di tahun 30-an, Lazio memiliki Penyerang terbaik Italia dalam sejarah sepakbola, Silvio Piola, yang sampai saat ini rekornya belum terkalahkan dengan 143 gol.Gelar pertama Lazio datang pada tahun 1958 dengan Pelatih Bernardini dan kapten Lovati Lazio merengkuh Piala Coppa, terima kasih pada Prini atas golnya di final saat melawan Fiorentina.

Gelar yang paling ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, 16 tahun kemudian tepatnya di musim 1973/1974 Lazio menggapai scudetto untuk pertama kalinya, dua tahun setelah Lazio kembali ke seri-A setelah sempat mencicipi seri-B. Skuad Lazio saat itu adalah : Pulici, Petrelli, Martini, Wilson, Oddi, Nanni, Garleaschelli, Re Cecconi, Chinaglia, Frustalupi dan D’Amico.

Masa keemasan Lazio adalah saat Lazio di pegang oleh Sergio Cragnotti yang memegang Lazio sejak 1992 yang menginvestasi puluhan milyar, ditangannya Lazio menjelma menjadi salah satu klub elit di Italia dan Eropa.

Di musim 1997/1998, Cragnotti dengan Pelatih Sven Goran Ericksson memulai era baru Lazio dengan membeli beberapa pemain dengan mental juara seperti, Almeyda, Mancini dan Jugovic dipadu dengan pemain bintang binaan Lazio Alessandro Nesta namun harus mengorbankan seorang kapten Lazio yaitu Giuseppe “Beppe” Signori dan hasilnya Lazio memenangkan gelar Coppa Italia untuk kedua kali dengan mengkandaskan Milan pada tanggal 29 April 1998.

Tim yang ditangani Erickson hampir saja kembali merengkuh gelar lainnya, yaitu Piala UEFA. Sayangnya Lazio harus kandas oleh Inter Milan yang saat itu masih di bela Ronaldo pada 6 Mei 1998.

Musim berikutnya, 1998/99, dimulai pada 29 Agustus 1998 dengan hadirnya para pemain berkelas yaitu Salas, Vieri, Mihajlovic, dan pemain muda Stankovic Lazio menambah koleksi gelar juara dengan merengkuh Supercoppa dan di kota Milan Lazio membalaskan dendam atas Inter dengan mengalahkan Inter di Final Coppa Italia. Saat itu pula Lazio menjadi penguasa abadi atas Piala Winner berkat gola dari Vieri dan Pavel Nedved.

Musim 1999/2000, musim yang tak mungkin terlupakan, Lazio dipenuhi oleh beberapa pemain baru berlabel bintang meski Vieri harus meninggalkan Lazio, namun Cragnotti mendatangkan Veron, Sensini, Simeone dan Simone Inzaghi. kemudian di bulan Desember Fabrizio Ravanelli datang dari Olimpic Marseile.

Saat itulah Lazio mengguncang Eropa, dan menorehkan tinta emas dengan mengalahkan Manchester United lewat gol Marcelo Salas yang masuk menggantikan Simone Inzaghi yang cedera setelah disikut Stam dan meraih gelar Piala Super Eropa.

Lazio belum berhenti membuat kejutan, Scudetto mampu diraih dan menjadi prestasi terbesar di masa keemasan Lazio. Ditambah lagi Lazio saat itu merengkuh scudetto dengan pencapaian prestasi yang sangat luar biasa, saat itu Lazio tertinggal 10 poin dengan hanya tersisa 8 pertandingan dari Pemuncak klasemen Juventus suatu sejarah baru sebuah tim dengan jarak begitu besar mampu mengejar dan menjadi Scudetto sekaligus mematahkan dominasi Milan (5 Scudetto) Juve (3) di 8 musim terakhir.

Lazio yang harus meraih penuh di pertandingan akhir mampu meraih poin penuh dengan mengkaghajar Reggina 3-0 lewat gol Simone Inzaghi dari titik putih disusul Veron juga dari penalti dan terakhir Simeone melengkapi kemenangan Lazio di Olimpico. Sementara di Perugia partai Perugia vs Juve di tunda karena cuaca buruk.

Hari itu Para Laziale memang sangat mengharap keajaiban datang setelah sebelumnya Laziale merasa dirugikan karena Juventus seperti mendapatkan bantuan dari wasit. Karena dipartai sebelumnya saat Juventus versus Parma wasit menganulir gol Fabio Cannavaro ke gawang Juventus yang jelas-jelas sah.

Para Laziale meluapkan kemarahan dan menjadikan hari itu hari kematian sepakbola italia. para penggemar Lazio itu meminta diadakan Playoff antara Lazio dan Juventus atau perang. Namun sejarah berkata lain Juventus harus rela melepas scudetto ke kota Roma setelah dikalahkan oleh Perugia 0 – 1 lewat gol Alessandro Calori.

Kota Roma berubah jadi lautan biru langit saat itu juga, gemuruh di stadion Olimpico meledak setelah hasil Perugia vs Juventus tersiar memperlihatkan bagaimana bahagianya para Laziale saat itu, para pemain Lazio ikut serta dalam berpesta scudetto di tribun penonton. sementara Carlo Ancelotti pelatih dari Juventus saat itu berkomentar “sore hari yang aneh ini akan selalu teringat untuk waktu yang lama”. Musim berikutnya Lazio masih memperlihatkan taji dengan kembali menghajar Intermilan di Supercoppa Italia pada 9 September 2000. sebelum akhirnya sang pelatih Erickson memilih mundur dari kursi kepelatihan.

Tahun 2002 menjadi akhir dari masa Lazio bersama Cragnotti setelah kebangkrutan yang dialami Cirio membuat Lazio terjerumus kelubang kehancuran. satu persatu pemain bintang Lazio meninggalkan klub yang saat itu sedang kesusahan. Bahkan maskot Lazio sang kapten Nesta harus menyeberang ke kota Milan setelah memutuskan untuk pindah ke AC. Milan.

Musim 2003/2004 dibawah kepelatihan Roberto Mancini Lazio sempat kembali meraih gelar Coppa Italia, setelah mengalahkan Juventus dengan agrerat 4-2. Masa-masa kesulitan makin menjadi setelah Lazio di putuskan bersalah dalam kasus Calciopoli dan mendapat hukuman pengurangan poin.

Tahun 2004 Lotito resmi mengambil alih Lazio, Presiden baru Lazio ini memiliki hasrat besar untuk mengembalikan kejayaan Lazio.

Musim 2008/2009 Lazio banyak berbenah Lotito memiliki keinginan untuk membuat stadion khusus untuk Lazio dan meregenerasi skuad Lazio, pemain seperti Zarate dipinjam dari Klub Al-Sadd dan bermain gemilang di seri-A, duetnya Pandev juga tak kalah bersinar, musim ini Pandev memperlihatkan kelasnya dan membuat banyak klub meliriknya. Bersama Delio Rossi yang masih dipercaya Lotito untuk melatih Lazio, semoga Lazio dapat kembali mengepakkan sayapnya dan meraih tahta tertinggi seri-A yaitu Scudetto.

roma merda

roma merda